SAAT MENEMUI YANG MINIMAL, MAKA MAKSIMALKAN!
Indah Fajrotuz Zahro

Akmal, begitu ia biasa disapa. Anak lelaki yang speech delay ini tampak berbeda dari teman-teman yang lain. Berbeda dalam mengungkapkan perasaannya, berbeda dalam menyikapi stimulus dari sekitarnya. Tapi ia sama. Sama dalam hak bermain, bersosialisasi, mendapatkan perhatian dan mendapatkan pendidikan.
Awal berada di lingkungan sekolah, Akmal tampak kesulitan. Ia berteriak, berlari, merebut, meludah, memukul dan kegiatan agresi juga tempertantrum lainnya. Kesulitan Akmal juga menjadi kesulitan Saya saat itu. Namun kesulitan itu beriring dengan rasa syukur. Karena saat mengalami kesulitan itulah, Tuhan semakin lebih dekat dan teringat. Setiap perilakunya saat itu membuat kalimat istighfar seringkali terlirih. Setiap perlakuan yang hendak diberikan kepada Akmal diiringi do’a terlebih dulu. Ada perasaan mendalam saat itu, perasaan bahwa Tuhan selalu menyertai jiwa ini, jiwa Akmal dan jiwa-jiwa di sekitar kami. Inilah yang membuat yakin bahwa “inna ma’al usri yusro”. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Setiap kita kesulitan pasti akan ada jalan keluar bagi siapapun yang berusaha. Man jadda wajada.
Bulan pertama, Saya asyik mengamati Akmal. Mencoba memasuki dunianya. Untuk dekat dengannya. Dan perlahan mengajaknya masuk ke dunia  kami yang merasa diri normal. Saya memahaminya. Akmal memahami saya. Saat orang lain mencerca. Saya diam, mengevaluasi. Ada kalanya kita menutup telinga untuk suara-suara yang justru akan menjatuhkan diri yang sedang berusaha merangkak meraih tujuan. Saya mendampingi Akmal dengan berbagai suara tentangnya. Jika Saya berbahagia mendengar suara yang mendukung, saya pun juga sebaiknya tetap berbahagia untuk mendengar suara yang mencibir. mendo’a dan membuktikan bahwa Akmal akan dapat memaksimalkan potensinya dibalik keminimalan yang dimilikinya.
Perlahan, Akmal menunjukkan kegemarannya dengan balok, pesawat, menyusun  balok, menggambar pesawat. Berusaha memfasilitasi yang dibutuhkannya. Menstimulasi konsonan suaranya dengan melatih dan mengoptimalkan kemampuan motoriknya. Koordinasi gerak, keseimbangan tubuh, melatih bernapas dengan otot perut, melakukan kegiatan meniup, mendesis. Selain motorik kasar dan halus, kemampuan sosial emosi juga terstimulasi. Akmal senang bermain peran untuk menstimulasi kosakatanya. Mengajaknya bermain di sentra Peran dan Bahasa. Melatih Bahasa reseptif dan ekspresifnya, tentunya sesuai kemampuan yang dimiliki. Kontrol emosi terlatihkan dengan mengajarinya relaksasi, role play, time out, reinforcement dan melatih self management nya.
Usaha-usaha pengoptimalan potensi Akmal tersebut terangkum dalam system yang berupa individualized education program (IEP) atau program pendidikan individual yang disusun dengan menyesuaikan kebutuhan pribadi Akmal. Tentunya tak lepas dari tahapan perkembangan. Ia belajar bersama dengan teman-temannya. Sesuai dengan prinsip dari pendidikan inklusi bahwa ia belajar bersama tanpa melihat perbedaan yang ada padanya.
Akmal adalah minimal anak yang memiliki kebutuhan berbeda dengan teman-teman pada umumnya. Tapi yang minimal itu juga memiliki hak untuk dimaksimalkan potensinya. Dengan berbagai upaya, dengan berbagai sinergi antara keluarga-sekolah-masyarakat agar anak dapat tumbuh maksimal sesuai potensinya. Keluarga-sekolah-masyarakat adalah lingkungan inklusif yang selayaknya ramah bagi pembelajaran anak.
Inklusi merupakan filosofi dalam pendidikan dan sosial. Pada pengertian inklusi, semua manusia adalah anggota dalam masyarakat yang memiliki nilai, apapun perbedaan yang ada dalam dirinya yang pada akhirnya membentuk keragaman dalam bermasyarakat. Pada pendidikan inklusi memiliki pandangan bahwa anak berbeda sehingga memiliki kebutuhan yang berbeda, semua anak dapat belajar dan sistem pendidikan menyesuaikan kebutuhan anak-anak.
Akmal adalah salah satu contoh anak yang memiliki kebutuhan khusus. Kebutuhan untuk disusunkan program pendidikan yang disesuaikan dengan potensinya agar ia dapat memaksimalkan potensinya. Tapi Akmal memiliki kebutuhan umum yang sama dengan teman-teman lainnya. Yakni kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan, kebutuhan bermain dengan bahagia, kebutuhan bersosialisasi dan kebutuhan lainnya. Ditinjau dari hierarki kebutuhan Maslow. Anak-anak juga memiliki kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri. Semaksimal mungkin kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat terpenuhi agar tegangan dalam diri dapat tersalurkan dengan cara yang semestinya agar anak memperoleh haknya sebelum kita menuntut dengan berbagai kewajibanya yang selayaknya dilakukan. Jika setiap anak mendapatkan hak nya dalam berpendidikan maka cita-cita pendidikan yang termaktub dalam UUD 1945 pasal 31, UU Perlindungan Anak pasal 48, UU Pendidikan Nasional pasal 5, UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Konvensi Hak Anak 1989 dapat terwujud.

Komentar

Postingan populer dari blog ini