INGIN BERSAHAJA? LANGITKANLAH ASA DAN BUMIKANLAH HATI
Oleh: Indah Fajrotuz Zahro

Beberapa hari lalu salah seorang teman menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang bapak di salah satu mushola di Surabaya. Sesaat setelah sholat Maghrib berjamaah. Sambil menunggu waktu Isya’, sang bapak mendekatinya sambil tersenyum. Perkenalan tersebut dilanjutkan dengan percakapan tentang kehidupan sehari-hari. Sang bapak menceritakan tentang pengalaman hidupnya. Bapak yang setiap harinya menjadi imam sholat Maghrib dan Isya’ di mushola tersebut menceritakan harapan terbesarnya adalah ingin memuliakan ilmu dan menghidupkan rumah Allah SWT seberapapun padatnya aktivitas di luar. Memuliakan ilmu dengan menuntut ilmu setinggi langit. Menghidupkan rumah Allah SWT dengan berjamaah di mushola dekat rumah dan mensedekahkan sebagian hartanya. Di akhir cerita, sang bapak dua anak ini mengungkapkan bahwa beliau adalah pengusaha property di Surabaya yang ranah bisnisnya hingga di berbagai kota di Jawa dan Bali. Dibalik terhormatnya peran beliau di tempat kerja, beliau tetap dengan kebersahajaannya menempatkan dirinya di lingkungan masyarakat.
Sahaja. Sebuah kata yang sarat makna. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata sahaja dengan keadaan sebenarnya, sewajarnya, apa adanya, sederhana, tidak berlebih-lebihan. Sifat bersahaja dapat diartikan dengan sifat yang menunjukkan keadaan diri yang sebenarnya, tidak berlebih-lebihan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Kisah diatas menunjukkan sikap seorang bapak yang merupakan pemilik dari perusahaan yang bergerak di bidang property. Sikap untuk menempatkan diri dimana beliau berada. Di tempat kerja, lingkungan rumah dan di lingkungan masyarakat lainnya. Memiliki harapan mulia, yang menurut orang lain sederhana, namun beliau mengartikan bahwa harapan tersebut adalah harapan yang tinggi, setinggi langit. Harapan untuk memuliakan imu dan menghidupkan rumah Allah SWT.
Harapan terkait dengan impian dan keinginan. Impian dan keinginan yang membutuhkan usaha untuk meraih dan mewujudkannya. Agar impian dan keinginan tersebut tidak hanya menjadi angan. Salah satu harapannya adalah memuliakan ilmu. Memuliakan ilmu dengan tanpa lelah menuntut ilmu dan selalu menghadirkan rasa ingin tahu dalam setiap proses belajar yang dijalani. Aristoteles mengungkapkan “Semakin aku tahu bahwa aku belum tahu dan harus berusaha mencari tahu”. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa saat kita memiliki ilmu maka kita semakin menjadi orang yang merasa belum memiliki ilmu dan membutuhkan upaya untuk  memperdalam ilmu. Merasa kurang dengan ilmu yang dimiliki dan memiliki motivasi untuk selalu belajar. Ibarat ilmu padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Ungkapan ini mengibaratkan seseorang yang semakin banyak dan mendalam ilmunya maka akan semakin rendah hatinya. Menanggalkan kesombongan diri dan semakin mendekatkan diri pada sang penciptanya.
Di samping motivasi untuk menuntut ilmu, memuliakan ilmu dapat juga diarahkan dengan menyampaikan ilmu yang dimiliki agar ilmu tersebut menjadi manfaat. Manfaat yang terutama adalah bagi diri sendiri. Ilmu mengajarkan kita untuk lebih memahami siapa diri kita sebenarnya. Untuk apa kita diciptakan dan manfaat apa yang akan kita berikan bagi semesta. Mendidik diri sendiri terlebih dahulu dan untuk selanjutnya mendidik orang lain. Khalifah Ali bin Abi Tholib menyampaikan “Siapa yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin orang lain, hendaknya ia mulai dengan mengajar dirinya sendiri”. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa sebelum kita mendidik orang lain, alangkah baiknya jika kita mendidik diri kita terlebih dahulu. Mendidik pasti membutuhkan ilmu agar proses pendidikan berjalan dengan baik. Manfaat selanjutnya ditujukan kepada keluarga, masyarakat dan lingungan (alam dan binatang). Karena setiap manusia diciptakan tidak dalam keadaan sia-sia. “Sampaikan walau satu ayat” demikian sabda Rasulullah. Sedikit apapun ilmu yang dimiliki, jika ilmu tersebut bermanfaat maka akan menjadi ladang amal di dunia dan akhirat.
Harapan selanjutnya adalah untuk menghidupkan rumah Allah. Menghidupkan rumah Allah dengan sholat berjamaah dan mensedekahkan sebagian harta yang dimiliki. Aktivitas mengaji di masjid atau mushola juga menjadi upaya untuk menghidupkan rumah Allah dan berbagai aktivitas spiritual lainnya. Bersosialisasi di kegiatan masjid atau mushola dengan menanggalkan atribut profesi duniawi yang dimiliki.
Meraih harapan setinggi langit ibarat melangitkan asa. Merendahkan hati dengan menanggalkan kesombongan diri atas segala ilmu dan kemampuan yang dimiliki ibarat membumikan hati. Melangitkan asa dan membumikan hati adalah upaya untuk membentuk pribadi yang bersahaja. Pribadi yang menunjukkan keadaan diri yang sebenarnya dan tidak berlebih-lebihan. Semoga kita menjadi pribadi yang bersahaja, Aamiin. Wallahu’alam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini