Antara Nasib dengan Angka 13
Oleh: Indah Fajrotuz Zahro

Mendengar angka 13 mengingatkan salah satu teman Sekolah Dasar yang lahir pada tanggal 13. Pada saat SD, ia termasuk anak yang pendiam dan menarik diri dari lingkungan bermainnya. Saat SMP kami berpisah sekolah dan dipertemukan kembali pada masa SMA. Kami sekelas saat itu. Pada masa SMA, teman ini menjadi anak yang ceria, senang bersosialisasi dan terlibat dalam organisasi di sekolah. Pada suatu waktu kami berbincang mengenai masa SD kami. Saya sampaikan bahwa ia berubah dari sosoknya saat SD. Dengan jujur ia katakan bahwa pada saat SD terjadi kesalahan pada perayaan ulang tahunnya. Saat SMP baru ia memahami bahwa di akte kelahirannya tercantum bahwa ia lahir di tanggal 15 bukan tanggal 13. Saat ditanya hubungan antara perubahan tanggal kelahiran dengan kepribadiannya. Ia menyampaikan bahwa pada saat SD ia meyakini bahwa ia lahir di tanggal yang dipercayai sebagai angka sial. Hingga ia malu saat menyebutkan tanggal kelahirannya saat itu. Dan setelah tahu bahwa ia lahir di tanggal 15 ia mempercayai bahwa ia selamat dari kesialan dan akan meraih kebahagiaan di setiap harinya. Hal itulah yang menyebabkannya mengalami perubahan dalam perilakunya pada saat SD dengan SMA.
Anggapan bahwa angka 13 adalah angka sial merupakan anggapan yang telah umum di masyarakat. Telah ada yang mampu berpikir realistis bahwa anggapan tersebut hanyalah mitos, namun tidak sedikit pula yang masih mempercayai bahwa angka 13 adalah angka sial.
Tak jelas kapan orang mulai percaya dengan kekuatan baik dan buruk dalam sebuah angka. Dari beberapa referensi disebutkan bahwa banyak dugaan yang menyangka bahwa Pythagoras, seorang seniman dan filsuf Yunani pada abad VI SM secara tak langsung mendorong para pengikutnya melahirkan pemahaman baru lewat ilmu numerologi.
Pythagoras memandang alam berkaitan erat dengan prinsip Matematika, yang tak lain mengandung pengertian angka. Upaya untuk memudahkan memahami sifat alam dengan mengkonversikan setiap unsur alam menjadi angka. Dengan cara ini, bisa ditemukan urutan dan keteraturan alam juga pengaruhnya bagi manusia. Prinsip Pythagoras ini kemudian berkembang menjadi dasar numerologi Barat.
Sebagai bagian dari alam, segala aspek kehidupan yang melingkupi manusia, seperti karakter dan takdirnya, pun bisa dinyatakan dengan angka. Numerologi bukan hanya digunakan untuk menentukan watak dan nasib, namun juga agar orang bisa menapaki jalan hidupnya dengan mudah dalam mencapai keberhasilan.
Hampir sama dengan kebudayaan Barat, kebudayaan Cina juga mengganggap bahwa angka 13 itu adalah angka pembawa sial. Kang Hong Kian, seorang konsultan menyampaikan bahwa jika angka 1 dan 3 (13) dijumlahkan hasilnya adalah 4. Dalam bahasa Cina angka 4 jika diucapkan dengan intonasi yang berbeda akan memiliki dua makna yaitu empat dan mati. Selanjutnya, beliau menyampaikan bahwa ketidakberuntungan yang disebabkan oleh angka 4 atau deretan angka yang mengandung angka tersebut bisa jadi karena orang senang menghubung-hubungkan saja.
Orang senang menghubung-hubungkan antara kejadian yang dialami dengan segala hal yang ada di dalam diri dan di sekitarnya. Orang memandang angka 13 sebagai angka yang membawa kesialan hingga pada akhirnya orang berusaha untuk menghindari angka 13 dalam mengambil keputusan. Pengambilan keputusan untuk menghindari angka 13 itu tidak lain karena adanya harapan untuk tidak bernasib sial.  
Namun, dalam suatu kondisi kita tidak dapat menghindar dari munculnya angka 13. Sebagai kelanjutan angka 12, angka 13 tentu saja ada sebelum melangkah ke angka 14. Mau tidak mau, memang angka 13 harus dijalani sebagai proses menuju ke tingkat selanjutnya. Bukan menghindari angka 13, justru kita dituntut untuk memiliki cara pandang positif tentang angka 13 dan menghadapinya dengan sebaik-baik usaha untuk menghindari nasib sial. Karena, jika mengedepankan cara pandang negatif terhadap angka 13, maka ketidaknyamanan dan kecemasan yang akan kita hadapi. Sebaliknya, jika kita mengedepankan cara pandang positif terhadap angka 13, maka bisa jadi keberuntungan yang akan kita hadapi. Jelas disini bahwa yang berperan besar terhadap nasib sial atau beruntung adalah cara pandang positif dan usaha yang kita lakukan bukannya pada angka 13 nya.
Cara pandang positif dan usaha inilah yang menjadi bekal untuk menjadi manusia yang lebih memiliki pengetahuan dan mampu menciptakan cara-cara mengolah informasi agar bermanfaat bagi diri dan lingkungannya secara lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini